Menu Politik Masa Kini
Jika ada seseorang yang
bertanya, “Apa itu politik?” mungkin dari sebagian masyarakat awam
akan beranggapan bahwa aktivitas politik itu selalu berakhir dengan pengejaran,
penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan hingga pengasingan bagi para aktivis
politiknya. Itulah politik praktis. Namun, apakah benar orang yang sudah
mengetahui seluk-beluk dunia politik dan mengikuti setiap perkembangan politik
itu sudah memiliki kesadaran berpolitik? Jawabannya belum tentu. Lalu apa
kesadaran berpolitik itu?
Apa
itu politik?
Sebelum kita berbicara lebih
jauh tentang kesadaran berpolitik, sebaiknya kita mengetahui dulu apa itu
politik? Karena jika kita tidak mengetahui politik, mustahil untuk bisa
memiliki kesadaran berpolitik. “Jika tak kenal maka tak benci.”
Pepatah tersebut saya ubah redaksinya, tapi satu hal yang pasti jika kita tidak
mengenal terhadap sesuatu atau seseorang, maka hampir bisa dipastikan bahwa
kita tidak akan mencurahkan perhatian lebih kepada sesuatu atau seseorang itu.
Misal saja ketika kita
berbicara tentang Islam, jika kita tidak mengenal Islam lebih jauh maka di hati
kita tidak akan tumbuh rasa memiliki terhadap Islam. Kita tidak paham
aturan-aturannya, tidak paham kebiasaan-kebiasaan Islami yang bisa diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari kita.
Padahal jika kita mengenal
Islam lebih jauh, kita bisa mengagumi betapa hebatnya Islam. Islam tidak hanya
mengatur ibadah-ibadah ritual saja, seperti sholat, shaum, zakat, atau pergi
haji. Tapi, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ini juga mengatur urusan
ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, peradilan, perundang-undangan, politik,
hingga pemerintahan. Itu sebabnya, Islam disebut sebagai ideologi. Bahkan
untuk urusan masuk ke kamar kecil saja diatur, masuk kaki kiri terlebih dahulu
lalu keluar dengan kaki kanan terlebih dahulu. Islam benar-benar mengatur
kehidupan hingga aspek terkecil.
Lalu apa yang pengertian
politik? Dalam sebuah pemeo dikatakan, “Tidak ada musuh yang abadi, tidak
ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.” (NN).
Kita bisa melihat sendiri bagaimana para pemimpin negeri ini saling jegal,
saling sikut, saling menjatuhkan untuk dapat menduduki jabatan empuk dan basah.
Bila perlu, mengamalkan politik “daging sapi”. Inilah yang kemudian
disebut-sebut sebagai the struggle for power (perjuangan memperebutkan
kekuasaan). Seperti lagu ngetop milik bang Iwan Fals yang ngetop di era 80-an, “Setan-setan
politik yang datang mencekik, walau di musim paceklik tetap mencekik, Apakah
selamanya politik itu kejam. Apakah selamanya dia datang ‘tuk menghantam…”.
Jika kondisi politik identik
dengan yang seperti begini, maka tidak heran akan banyak orang berpandangan
miring terhadap aktivitas politik. Mungkin saja kemudian sebagian orang enggan
untuk berurusan dengan politik. Itulah sebabnya pandangan keliru seperti ini
harus segera diluruskan.
Bagaimana pengertian politik
menurut Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik
adalah ri’ayatusy syu’unil ummah dakhiliyan wa kharijiyan bi hukmin
mu’ayanin, (pengaturan urusan umat di dalam negeri dan luar negeri, dengan
hukum tertentu).
Kalo kita bicara Islam, maka
pengaturan tersebut menggunakan aturan Islam. Kalo bicara kapitalisme, maka
hukum yang digunakan adalah kapitalisme. Begitu pula dengan sosialisme dan
komunisme.
Adapun pengaturan urusan umat
tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang selama ini,
melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat),
sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain.
Buktinya apa? Islam sudah
mengatur masalah ini sejak pertama kali Rasulullah saw. mendirikan pemerintahan
Islam di Madinah, hingga terakhir di Turki. Sepanjang rentang waktu itu,
masyarakat dan negara diatur oleh Islam. Sayangnya, sejak tanggal 3 Maret 1924,
yakni saat Musthafa Kemal at-Taturk, pria jahat dan ambisius keturunan Yahudi
menghancurkan pemerintahan Islam di Turki atas bantuan agen-agen Inggris,
Islam tidak lagi diterapkan sebagai sebuah ideologi negara, bahkan hingga kini.
Akibatnya, pemuda dan pemudi
Islam masa kini kurang dalam memahami Islam sebagai sebuah ideologi negara.
Generasi Islam kontemporer hanya mengenal dan memahami Islam sebagai ibadah
ritual belaka. Jadinya, tidak disadari bahwa Islam itu sebuah ideologi.
Akibatnya, ketika memahami istilah politik dalam pandangan Islam saja kadang
mengalami kerepotan, apalagi untuk sadar berpolitik.
Kesadaran Berpolitik
Suatu ketika Khalifah Umar bin
Khaththab berpidato di hadapan kaum muslimin. Usai berpidato seorang pemuda
berdiri sambil mengacungkan pedang, lalu berteriak, “Wahai Umar, apabila
kami melihat engkau menyimpang, kami akan meluruskanmu dengan pedang ini.”
Umar yang mendengar pernyataan tadi kontan mengucapkan hamdalah.
Ternyata masih ada manusia, tepatnya pemuda, yang berani mengungkapkan
kebenaran.
Riwayat yang singkat ini bisa
memberikan gambaran yang jelas kepada kita pekatnya suasana kehidupan
berpolitik dalam Islam. Inilah aktivitas muhasabah lil hukam alias
mengoreksi penguasa atau amar ma’ruf nahyi munkar
Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru
al-Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi)
haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah
bersifat universal atau mendunia (internasional). Bukan kesadaran yang
bersifat lokal semata. Kedua, kesadaran politik yang dimiliki harus
berdasarkan sudut pandang yang khas (zawiyatun khashshah).
Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.
bersama Rasulullah saw., membuat semacam ‘taruhan’ untuk peperangan antara
Romawi dan Persia
yang berada jauh dari Mekkah. Padahal, saat itu siapapun yang memenangkan
perang nggak bakal menguntungkan kaum muslimin yang tertindas di Mekkah. Hal
ini membuktikan bahwa Abu Bakar r.a memiliki kesadaran politik yang cukup
tinggi. Islam memang mampu mencerahkan pemikiran manusia. Lalu apa yang membuat
kita tidak bangga menjadi seorang muslim?
Jika sekarang marak demo
menuntut untuk diturunkannya pejabat yang terlibat kasus korupsi sampai demo
sengketa lahan publik maka kita harus mencoba untuk menyikapi dengan kesadaran
politik yang baik. Jangan hanya memandang sepintas aja. Yakinlah bahwa ini buah
dari diterapkannya sistem kapitalisme. Jadi, kalau mau unjuk rasa, minta saja
langsung kepada negara supaya mengganti sistem kapitalisme dengan Islam.
Politik dan Nafsu Kekuasaan
Politik dan kekuasaan
memang dua sisi dari sebuah koin, tidak bisa dipisahkan. Tapi nafsu kekuasaan
tentu lain lagi ceritanya. Kekuasaan adalah satu hal, dan wajar saja dalam
dunia politik. Tapi nafsu kekuasaan adalah hal lain, yang kewajarannya amat
pantas diperdebatkan.
Kecenderungan para aktor politik
untuk berkuasa, jika perlu tanpa batas akan selalu muncul dari dalam dirinya.
Itu sebabnya diperlukan aturan main dalam perpolitikan.
Tapi, demi nafsu kekuasaan,
aturan main dalam perpolitikan, seringkali bisa dijadikan game tersendiri. Peraturan
toh dibuat oleh politikus itu sendiri, lewat parlemen. Siapa yang mayoritas
berkuasa, bisa berkoalisi sembari berkolusi membuat dan atau mengamandemen
undang-undang demi untuk melanggengkan kekuasaan.
Karena itu, aturan main kekuasaan yang bersifat formal
melalui peraturan perundang-undangan saja tidak cukup, sebab betapa besar
kemungkinan peraturan perundang-undangan dibuat untuk kepentingan politik
kalangan tertentu.
Di sini berlaku siapa yang besar
dia yang kuat. Siapa yang kuat dia yang mempermainkan. Tak pelak, selain aturan
main formal, masih harus dilengkapi lagi dengan moralitas dan etika.
Ranah moral dan etika, termasuk
dalam politik, adalah ranah hati nurani. Dengan hati nurani, jika masih
berfungsi, para aktor politik diajak merenung kepantasan dan kewajaran, bukan
hanya keabsahan undang-undang.
Semakin tidak
jelas kondisi politik kita, kenapa? karena semuanya mau jadi orang nomor satu,
baik dari kelompok intelektual, masyarakat, dan agama, yang sama2 memeliki visi
yang sama yaitu ingin melakukan perubahan pada negara ini tetapi pada
kenyataannya tidak, mereka menganggap menjadi orang nomor satu itu suatu
kebanggaan tetapi tidak dijadikan suatu amanah atau tanggung jawab yang harus
betul-betul dijalani dengan baik..... didalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa
pemimpin itu tanggung jawabnya besar sekali, sehingga apabila dia berbuat zalim
dan mengambil keputusan yang salah maka semua kesalahan akan dia tanggung di
akhirat nanti...!,kelihatan orang2 yang ambisi tetapi tidak punya kemampuan ini
tidak takut mati....!
Para politisi
sibuk berebut kekuasaan. rakyatnya cuek bebek dan phobi dengan politik, mereka
tau pemimpinnya korup tapi tetap berharap bisa hidup makmur di tangan mereka,
aaaaaneh.
Komentar
Posting Komentar