BENAR VS SALAH, BAIK VS BURUK
1. Pengertian Benar dan Salah
Pengertian
benar menurut etika ialah hal-hal yang sesuai dengan peraturan-peraturan,
sebaliknya, salah ialah hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan
yang berlaku.
Secara
subyektif "benar" di dunia bermacam-macam, benar menurut Ilmu Hitung
berlainan dengan menurut Ilmu Politik, benar menurut logika berlainan dengan
benar menurut dialektika, benar menurut seseorang berlainan dengan menurut
orang yang berbeda dan sebagainya.
Untuk
mencapai "benar", maka kebenaran mesti bersifat objektif, kebenaran
objektif ini adalah kebenaran pasti dan tunggal, kebenaran ini didasarkan
kepada peraturan yang dibuat oleh Yang Maha Satu, Yang Maha Mengetahui serta
Yang Maha Benar. Hal ini dapat kita ketahui dari •
"Kebenaran
adalah dari Rabb-mu dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang ragu"Q.S
Al-Baqoroh 2:147 :
2. Pengertian Baik dan Buruk
Pengertian
"baik" menurut etika adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu
tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, merugikan,
atau menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah "buruk" .
Konsep
Subjektifitas dan Relatifitas dalam baik dan buruk adalah serupa seperti konsep
Subjektifitas dan Relatifitas dalam benar dan salah. Hanya dalam konsep
Objektifitas memiliki perbedaan, secara objektif ukuran baik dan buruk adalah
sama yakni mengarah kepada tujuan akhir, meskipun tujuan setiap individu atau
golongan berbeda-beda, tetapi tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa
semuanya ingin baik atau bahagia.
Tujuan dari
masing-masing individu walaupun berbeda-beda semuanya akan bermuara pada satu
tujuan yang dalam ilmu etika disebut "kebaikan tertinggi", yang
dengan istilah latinnya disebut Summum Bonum atau bahasa arabnya Al-Khair
al-Kully. Kebaikan
tertinggi ini bisa juga disebut kebahagiaan yang universal atau universal
happiness. Allah
berfirman: "Dan
bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya maka
berlomba-lomba kamu ( dalam membuat ) kebaikan". (QS.
Al-Baqarah 2:148)
Di dalam
Akhlak Islamiah, antara baik sebagai tujuan akhir harus segaris dengan baik
sebagai sarana, alat, cara atau tujuan sementara mencapainya. Sejalan
dengan pemikiran manusia, berkembang pula patokan yang digunakan dalam
menentukan baik dan buruk. Keadaan ini menurut Poedjawiatna dalam Etika Filsafat
Tingkah Laku sangat rapat pada pandangan filsafat tentang manusia dan ini
tergantung dari metefisika pada umumnya.
Sementara
menurut Asmaran As dalam Pengantar Studi Akhlak, penilaian bak dan buruk
berdasarkan empat (4) aliran filsafat yaitu sosialisme, hedonisme, intuisisme
dan evolusi.
3. Konsepsi
Baik dan Buruk
- Faham Kebahagiaan (Hedonisme)
“Tingkah
laku atau perbuatan yang melahirkan kebahagiaan dan kenikmatan/kelezatan”. Ada
tiga sudut pandang dari faham ini yaitu (1) hedonisme individualistik/egostik
hedonism yang menilai bahwa jika suatu keputusan baik bagi pribadinya maka
disebut baik, sedangkan jika keputusan tersebut tidak baik maka itulah yang
buruk; (2) hedonisme rasional/rationalistic hedonism yang berpendapat bahwa
kebahagian atau kelezatan individu itu haruslah berdasarkan pertimbangan akal
sehat; dan (3) universalistic hedonism yang menyatakan bahwa yang menjadi tolok
ukur apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk adalah mengacu kepada akibat
perbuatan itu melahirkan kesenangan atau kebahagiaan kepada seluruh makhluk.
Menurut
kamus Indonesia Wikipedia, Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yang derivasi
katanya; “hedon” (pleasure) dan “isme”. Yang diartikan sebagai paradigma
berpikir yang menjadikan kesenangan sebagai pusat tindakan (any way of thinking
that gives pleasure a central role). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan
materi sebagai tujuan utama dalam hidup (KBBI, edisi ketiga, 2001). Secara
general, hedonisme bermakna, kesenangan merupakan satu-satunya manfaat atau
kebaikan.
Dengan
demikian hedonisme bisa didefinisikan sebagai sebuah doktrin (filsafat etika)
yang berpegangan bahwa tingkah laku itu digerakkan oleh keinginan atau hasrat
terhadap kesenangan dan menghindar dari segala penderitaan
- Bisikan Hati (Intuisi)
Bisikan hati adalah “kekuatan batin yang dapat mengidentifikasi apakah sesuatu perbuatan itu baik atau buruk tanpa terlebih dahulu melihat akibat yang ditimbulkan perbuatan itu”. Faham ini merupakan bantahan terhadap faham hedonisme. Tujuan utama dari aliran ini adalah keutamaan, keunggulan, keistimewaan yang dapat juga diartikan sebagai “kebaikan budi pekerti”
Murthadha Muthahariri yang berpendapat berdasar dalil Q.S Asy-Syams ayat 7-8. -7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), -8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Bahwa dalam buku nya:
"Etika tidak emosionlistik seperti dalam falsafah etika Hindu dan Kristen. Juga bukan rasional dan berdasarkan kehendak yang dikatakan filosof. Tetapi etika adalah ilham-ilham intuisi"
- Evolusi
Paham ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini selalu (secara berangsur-angsur) mengalami perubahan yaitu berkembang menuju kearah kesempurnaan. Dengan mengadopsi teori Darwin (ingat konsep selection of nature, struggle for life, dan survival for the fittest) Alexander mengungkapkan bahwa nilai moral harus selalu berkompetisi dengan nilai yang lainnya, bahkan dengan segala yang ada di alam ini, dan nilai moral yang bertahanlah (tetap) yang dikatakan dengan baik, dan nilai-nilai yang tidak bertahan (kalah dengan perjuangan antar nilai) dipandang sebagai buruk.
- Paham Eudaemonisme
Prinsip pokok faham ini adalah kebahagiaan bagi diri sendiri dan kebahagiaan bagi orang lain. Menurut Aristoteles, untuk mencapai eudaemonia ini diperlukan 4 hal yaitu (1) kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan, (2) kemauaan, (3) perbuatan baik, dan (4) pengetahuan batiniah.
- Aliran Pragmatisme
Aliran ini menititkberatkan pada hal-hal yang berguna dari diri sendiri baik yang bersifat moral maupun material. Yang menjadi titik beratnya adalah pengalaman, oleh karena itu penganut faham ini tidak mengenal istilah kebenaran sebab kebenaran bersifat abstrak dan tidak akan diperoleh dalam dunia empiris.
- Aliran Naturalisme
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk. Jean Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan adalah menjadi perusak alam semesta.
- Aliran Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran natiralisme sebab menurut faham vitalisme yang menjadi ukuran baik dan buruk itu bukan alam tetapi “vitae” atau hidup (yang sangat diperlukan untuk hidup). Aliran ini terdiri dari dua kelompok yaitu (1) vitalisme pessimistis (negative vitalistis) dan (2) vitalisme optimistime. Kelompok pertama terkenal dengan ungkapan “homo homini lupus” artinya “manusia adalah serigala bagi manusia yang lain”. Sedangkan menurut aliran kedua “perang adalah halal”, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan. Tokoh terkenal aliran vitalisme adalah F. Niettsche yang banyak memberikan pengaruh terhadap Adolf Hitler.
- Aliran Gessingnungsethik
Diprakarsai oleh Albert Schweitzer, seorang ahli Teolog, Musik, Medik, Filsuf, dan Etika. Yang terpenting menurut aliran ini adalah “penghormatan akan kehidupan”, yaitu sedapat mungkin setiap makhluk harus saling menolong dan berlaku baik. Ukuran kebaikannya adalah “pemelihataan akan kehidupan”, dan yang buruk adalah setiap usaha yang berakibat kebinasaan dan menghalangi-halangi hidup.
- Aliran Idealisme
Sangat mementingkan eksistensi akal pikiran manusia sebab pikiran manusialah yang menjadi sumber ide. Ungkapan terkenal dari aliran ini adalah “segala yang ada hanyalah yang tiada” sebab yang ada itu hanyalah gambaran/perwujudan dari alam pikiran (bersifat tiruan). Sebaik apapun tiruan tidak akan seindah aslinya (yaitu ide). Jadi yang bai itu hanya apa yang ada di dalam ide itu sendiri.
- Aliran Eksistensialisme
Etika Eksistensialisme berpandangan bahwa eksistensi di atas dunia selalu terkait pada keputusan-keputusan individu, Artinya, andaikan individu tidak mengambil suatu keputusan maka pastilah tidak ada yang terjadi. Individu sangat menentukan terhadao sesuatu yang baik, terutama sekali bagi kepentingan dirinya. Ungkapan dari aliran ini adalah “ Truth is subjectivity” atau kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk.
- Aliran Marxisme
Berdasarkan “Dialectical Materialsme” yaitu segala sesuatu yang ada dikuasai oleh keadaan material dan keadaan material pun juga harus mengikuti jalan dialektikal itu. Aliran ini memegang motto “segala sesuatu jalan dapatlah dibenarkan asalkan saja jalan dapat ditempuh untuk mencapai sesuatu tujuan”. Jadi apapun dapat dipandang baik asalkan dapat menyampaikan/menghantar kepada tujuan
- Aliran Sosialisme
Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat. Pandangan berdasar adat istiadat di namankan pandangan sosialisme karena berdasarkan manusia yang saling bersosialisasi. Mengenai hal ini Poedjawijatma berkomentar :
"…Adat istiadat timur dan barat misalnya berbeda. Kita tidak punya hak untuk menghukum adat yang ini buruk dan yang itu buruk, tetapi yang dapat dikatakan adalah bahwa adat itu sukar dijadikan ukuran umum, karena tidak umumnya itu…"
4. Baik dan buruk menurut ajaran Islam
Ajaran islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al-Quran yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadits Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam ajaran islam sangat mendapatkan perhatian yang begitu besar.
Menurut ajaran islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al-Quran dan Al-hadits. Jika kita perhatikan Al-Quran dan alhadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik dan ada pula istilah yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah dan al-birr.
Adanya berbagai istilah dalam Al-qur'an ini menunjukan bahwa Al-Qur'an dan Hadits menunjukan bahwa sesuatu yang baik menurut islam jauh lebih lengkap dan kompherensif dibandingkan arti baik dalam arti kebaikan yang dikemukakan sebelumnya
Kesimpulan
Pengertian benar menurut etika ialah hal-hal yang sesuai dengan peraturan-peraturan, sebaliknya, salah ialah hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku
Pengertian "baik" menurut etika adalah sesuatu yang berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaliknya, yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, merugikan, atau menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah "buruk"
Konsepsi Baik-buruk berdasarkan beberapa aliran : Hedonisme, Intuisi, Evolusi, eudaemonisme, Pragmatisme, Naturalisme, Vitalisme, Gessingnungsethik, Idealisme, Eksistensialisme, Marxisme, Sosialisme dan menurut Ajaran Islam
Daftar Pustaka:
-Ata Ujan, Andre. 2001. Keadilan Dan Demokrasi Telaah Filsafat Politik John Rawls. Yogyakarta: Kanisius.
-Lanur, Alex. 2005. On Liberty Perihal kebebasan. Terjemahan Karya John Stuart Mill, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
-Mustofa. 1997. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia
Baca Juga:
Konsep Nafsu dan Keinginan
Koreksi Islam Terhadap Al-Kitab dan Kristian
Komentar
Posting Komentar